Selasa, 17 Juni 2008

ABOUT HEPATITIS B

Hepatitis B Bisa Bunuh Anda Diam-diam

Selasa, 17 Juni 2008 19:20 WIB
PENYAKIT hepatitis B adalah jenis penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti. Tak heran bila para penderitanya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menderita hepatitis B bahkan bila sudah dalam kondisi kronis sekalipun."Yang paling sering ditemukan memang tanpa gejala. Banyak sekali pasien yang kita obati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. Beruntung kalau ada pasien yang rajin atau sadar melakukan check-up setiap tahun. Dengan penanganan sejak dini, kemungkinannya untuk menjadi kronis tentu bisa dikurangi," ungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr. Unggul Budihusodo, Sp.PD-KGEH di Jakarta, Selasa (17/6). Ditegaskan dr Unggul, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya. Tentu yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.Namun begitu, ada gejala-gejala yang mungkin hadir pada pendeita meskipun tidak selalu muncul. "Gejala-gejala yang mungkin ada seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit yang tampak menguning," papar dr Unggul yang sehari-hari berkantordi Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta .Ia menambahkan, seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT)."Dari hasil pemeriksaan nanti, dokter kemudian akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya," jelas dr Unggul.Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan. Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.Saat ini, pengobatan hepatiitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi. Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine. Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi.

HALO PARA PEROKOK!

Rokok Kurangi Jatah Umur 5 Tahun

TPGImages
Artikel Terkait:
Stop Rokok dengan Terapi SEFT
Tujuh Langkah Melupakan Rokok
Banyak Perokok Mati Gara-gara Rokok
Lebih 43 Juta Anak Hidup dengan Perokok
Imam B. Prasodjo: Merokok Tindakan Bodoh
Rabu, 11 Juni 2008 09:42 WIB
BAGI para pecandu rokok, kebiasaan ini memang mendatangkan kenikmatan sesaat. Akan tetapi, tanpa disadari mereka juga secara perlahan kehilangan banyak hal seperti materi dan kesehatan. Yang lebih mengkhawatirkan, mengisap tembakau ternyata juga memengaruhi rentang waktu hidup seseorang. Menurut data yang dirilis US Journal of the National Cancer Institute, Selasa (10/6), efek merokok setara dengan penurunan harapan hidup hingga lima tahun.“Dampak merokok terhadap peluang kematian ternyata sama dengan menambahkan pengaruhnya antara lima hingga 10 tahun,” ungkap laporan yang dilengkapi grafik risiko kematian tersebut.“Baik pada pria maupun wanita , merokok akan meningkatkan risiko kematian hampir sama dengan magnitude lima tahun pada usia seseorang,” tambah laporan itu. Angka tersebut diperoleh dengan memperhitungkan statistik risiko kesehatan dan kematian dari berbagai agensi, seperti American Cancer Society dan National Center for Health Statistics. Data tersebut kemudian disusun menjadi sebuah grafik risiko kematian untuk 10 tahun. “Sebagai contoh, pria berusia 55 tahun yang merokok memiliki risiko kematian dalam 10 tahun akibat berbagai penyebab seperti halnya pria lain berusia 65 tahun yang tak pernah merokok,” kata laporan tersebut.Di antara para wanita yang tak pernah merokok, rata-rata risiko kematian dalam 10 tahun akibat kanker payudara dan jantung akan sama hingga mencapai usia 60. “Bagi wanita yang saat ini masih merokok, peluang kematiannya akibat penyakit jantung dan kanker paru-paru melampaui peluang kematian akibat kanker payudara sejak usia 40,” katanya. Hasil studi yang bertujuan membantu para dokter menyampaikan informasi tentang risiko merokok ini di pimpin oleh Lisa Schwartz dari Department of Veterans Affairs Medical Center di Vermont. “Kami berharap, keberadaan sampel grafik sederhana ini memberi fasilitas bagi pasien dalam konsultasi dengan dokter tentang risiko penyakit dan membantu mereka memahami di mana harus fokus dalam upaya menurunkan risiko,” tulis peneliti.