Yo, jadi orang tua yang baik.
Kata “bapak”, “bapa”, “ayah” diterjemahkan dari bahasa Ibrani ’ab (ayin-qames-bet). Kata ‘ab dalam bahasa Aram Abba. Sedangkan kata ‘ab itu sendiri memiliki berbagai arti di samping bapak, yakni kakek, nenek moyang suku bangsa, pemula, pendiri suatu kelompok, dan sebagainya. Pada awalnya kata ‘ab hanya terdiri dari dua huruf konsonan “alef” dan “bet”. Huruf “alef” א dalam piktograf Ibrani kuno adalah gambar kepala sapi jantan, yang melambangkan kekuatan. Sedangkan huruf “bet” ב adalah gambar denah ruangan tenda, yang bagi orang Ibrani kuno di antaranya mewakili ide rumah atau keluarga.
Gabungan dua huruf mati tersebut berarti “kekuatan keluarga”. Bapak adalah kekuatan keluarga. Sebagaimana tiang adalah kerangka untuk menyangga tenda, demikian halnya bapak adalah kekuatan yang menyangga keluarga. Jika tiang itu runtuh, maka runtuhlah tenda itu. Begitu pula, jika bapak tidak dapat memerankan fungsinya secara baik, maka runtuhlah keluarga itu. Itulah konsep orang Ibrani mengenai “bapak”.
Pada zaman lampau, fungsi bapak sangat menonjol dalam beberapa hal. Dia sebagai pemimpin pasukan keluarga. Bapak sebagai penyedia keturunan untuk melanjutkan garis keluarga,sebagaimana Yakob sebagai Bapak Israel. Dia juga mengajar Firman Tuhan kepada anggota keluarga dan menjadi imam dalam keluarganya. Jadi fungsi bapak tidak hanya sebagai penopang kekuatan fisik dan keberlangsungan keturunan secara jasmaniah, tapi juga sebagai pendukung kekuatan rohani keluarga.
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ulangan 6 : 4 - 9
Pada zaman Perjanjian Lama, kata “bapak” tidak hanya dikenakan kepada manusia. Nama YHWH (LAI: TUHAN) disebut “Bapa” bagi umat Israel. Setidaknya beberapa ayat Alkitab menjelaskan hal ini: Mazmur 68:5(6), Yesaya 63:16; 64:8, dan Ulangan 32:6. Bahkan, nabi Yesaya secara propetis juga menunjuk Tuhan Yesus disebut orang “bapa yang kekal” (bdk. Yesaya 9:6 (5)). Pada zaman Perjanjian Baru Rasul Paulus menegaskan bahwa Allah (terjemahan LAI) adalah “Bapa” bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (bdk. Roma 8:15 dan Galatia 4:6).
Itulah sebabnya dalam kehidupan Kristen, Figur seorang bapak dalam kehidupan keluarga sangat penting, Karena kehadiran dan peranannya sebagai kepala keluarga turut menentukan jalannya kehidupan keluarga itu sendiri. Bapak adalah “kekuatan keluarga”, penopang keluarga yang tidak hanya secara fisik-jasmani, tetapi juga secara rohani.
Merujuk kepada konsep yang dijelaskan dalam Perjanjian Lama, Kaum bapak dalam kehidupan Kristen, harus mampu memerankan fungsinya sebagai Pemimpin, Penyedia keturunan, Pengajar Firman Tuhan, dan Imam dalam keluarga. Apabila hal ini tidak dilaksanakan, keutuhan, kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan keluarga menjadi taruhannya.
Dalam suatu penyelidikan di Amerika menyimpulkan bahwa ketidak-hadiran bapak dalam keluarga membawa akibat yang sangat fatal bagi perkembangan hidup anak-anaknya. Peran Bapak tidak ada bedanya dengan peranan seorang ibu dalam keluarga. Dalam penyelidikan itu diketahui bahwa ketidak hadiran seorang bapak membuat anak laki-laki menjadi peka-perasa, pemarah dan mudah frustasi. Bahkan anak cenderung menjadi ‘introvert’ dan pembuat masalah.
Bahkan ada hal yang menarik terjadi pada sisi anak perempuan; . Seorang anak perempuan yang melewatkan waktu dengan Ayahnya yang penuh kasih tumbuh dengan pengetahuan bahwa ia pantas diperlakukan dengan hormat oleh anak-anak lelaki, dan tahu hal apa yang harus dicarinya dalam diri seorang suami.
Bagi anak-anak bapak adalah figur yang menantang, dan bantuannya mampu menyelesaikan segala masalah dan kesulitan yang dihadapi anak-anak. Mereka begitu percaya dan bangga akan
bapaknya. Kehadiran bapak dalam kehidupan mereka sungguh mempunyai pengaruh dalam hidup secara luar biasa. Anak-anak akan bertindak dan bertingkah laku berdasar pada contoh dan teladan yang diberikan oleh orang tuanya. Akan tetapi, kenyataan di dalam kehidupan saat ini, ada banyak Bapak tidak mengindahkan perannya, bahkan saat ini, banyak bapak yang tidak mengetahui lagi apa peranannya dalam kehidupan keluarga selain memberikan nafkah kepada anak dan istri. Bapak semakin lupa peranannya, terutama dalam keterlibatan mendidik dan membimbing anak-anaknya. Selain itu mereka semakin menjadi ‘over-possive’ dalam segala hal dan cenderung egois atau mementingkan kepentingan diri sendiri. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah bahwa mereka tidak lagi
perduli dengan pendidikan iman anak-anak mereka.
Satu kebutuhan yang perlu dan mendesak dalam keluarga di abad ini adalah
kehadiran fisik bapak dalam keluarga. Memberi waktu dan perhatian kepada
kebutuhan keluarga adalah hal yang sangat essensial. Ini sama perlunya dengan
waktu untuk kerja. Tidak ada alasan bagi seorang bapak untuk mengatakan ‘aku
sibuk sekali, tidak mempunyai waktu untuk keluarga’. Aku bekerja keras untuk
mereka, dan demi mereka saya sampai lupa waktu. Seringkali dengan alasan semacam
ini, seorang bapak berusaha membenarkan dirinya dari kurangnya memberi waktu
untuk istri dan anak-anak mereka. Waktu untuk bercengkerama bersama keluarga
adalah mutlak perlu, bila bapak tidak ingin kehilangan keluarga dan
anak-anaknya.
Pengalaman Penulis tentang sosok bapak sejak kecil hingga kini:
Menjadi keluarga yang harmonis adalah idaman semua pasangan yang telah berkeluarga. Sesuai dengan makna hurufiahnya, keluarga harmonis adalah keluarga yang dibangun dalam suasana dan situasi yang berjalan dalam “rel” yang semestinya, penuh kebahagiaan, keceriaan, kebersamaan, kesejahteraan, dan kesuksesan. Akan tetapi kenyataannya, dalam kehidupan ini, banyak keluarga justru mengalami ketidak harmonisan, bahkan kehancuran.
Apa yang bisa membuat keluarga harmonis? Apakah berlimpahnya uang/kekayaan? Apakah suami yang ganteng dan istri yang cantik? Apakah suami yang pintar dan istri yang pintar? Apakah suami yang jelek dan istri yang cantik?
Dalam banyak kasus, berlimpahnya uang/kekayaan justru merenggut keharmonisan dan kebahagiaan keluarga. Demikian juga dengan suami yang ganteng dan istri yang cantik. Apalagi mengenai suami yang pintar dan istri yang pintar, cenderungnya malah bertengkar karena mempertahankan ego masing-masing.
Lalu apa dong yang membuat keluarga yang harmonis? Jawabannya sederhana, ketika suami dan istri mau bekerja sama dan saling menghormati dan menghargai secara konsisten. Dan melihat bahwa keluarga yang dibangun mereka sebagai sebuah dunia kecil yang diberikan oleh Tuhan untuk dirawat, dikembangkan dan diwariskan.
Untuk argumen ini tentunya kita semua sudah tau, masalahnya adalah bagaimana untuk dapat mewujudkannya?
memang mewujudkan sebuah keluarga yang harmonis itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi juga bukan sesuatu yang mustahil.
pada mulanya bisa dikatakan kehidupan keluarga kami tidak harmonis. Pertengkaran, perselisihan, pertikaian, dsb. Kerap menghampiri hubungan kedua orang tua saya, dan saya termasuk anak yang kena imbasnya waktu itu.
Penyebab utama perselisihan adalah sikap Ayah saya yang keras dan cenderung egois. Saya katakan demikian karena memang itulah kenyataan yang terjadi. Sungguh sakit hati memang ketika dalam rumah tidak damai. Semua menjadi tidak enak, walau lapar, Paha Ayam goreng dan sambal goreng hati justru seperti kebagian makan empedu, pahit.
Sikap Ayah saya bertolak belakang dengan sikap ibu. Ayah perokok berat, malas sembahyang, keras, banyak bon rokok, kalau melihat ada yang tidak beres langsung mengamuk, pokoknya mengerikan.
Dalam kondisi yang seperti ini, ketika segala sesuatu menjadi gamang. Rupanya sikap kembali kepada Tuhan dan mencari kebenaran Firman Tuhan adalah jawaban dan proses yang memperbaiki keadaan.
Hal ini sepertinya klise, tapi fakta. Semua dimulai dari hati. Hati yang rusak membuat perbuatan kitapun rusak. Sebaliknya, hati yang bertobat dan dipenuhi oleh kuasa Roh Allah, dapat menghasilkan perubahan dahsyat. Dan hal itu yang saya alami dalam keluarga saya, kedua orang tua saya; terutama Ayah saya.
Ketika ayah mulai mencari Tuhan dan mengijinkan Dia yang diam dan memimpin hatinya, hubungan keluarga kami menjadi sedikit demi sedikit membaik dan akhirnya harmonis. Segala sesuatu menjadi lebih positif dan indah. Bahkan menariknya, mereka yang pada mulanya susah berdialog, kini justru sangat cocok dan bisa bekerja sama. Ayah yang dulunya susah diajak berbicara, kini justru sangat mudah diajak ngobrol, ayah yang dulunya angker, sekarang justru sangat menyenangkan. Bahkan tidak ada rasa takut kami anak-anaknya untuk berdialog dan mengutarakan pendapat dan keinginan. Hubungan kami bukan lagi seperti bos dengan anak buah, tapi sesuai dengan fungsi asal, anak dan orang tua. Sehingga semua menjadi seperti saat ini, saya bisa menjadi seorang pendeta dengan rasa sukacita tanpa beban. Kadang saya tersenyum sendiri, ketika mengingat keadaan waktu keluarga kami belum bertobat, saya menyebut orang tua saya sebagai “Komandan Kodim”, anda tahu sendiri lah maksudnya. Dan saya pernah digelari orang-orang di kompleks perumahan tempat kami tinggal sebagai “Hantu Perumnas” karena saking bandelnya, saya bandel karena frustasi!
sebagai anak frustasi, saya sering murung, pemarah dan membangkang, sebabnya jelas, Ayah melarang tetapi tidak memberikan teladan. Ini masalah. Tapi puji Tuhan itu dulu, sekarang sudah berbeda 180 derajat. Atas pertolongan Tuhan, keluarga yang harmonis bukanlah hanya sebuah mimpi untuk keluarga saya.
kesimpulan kesaksian Penulis:
1. Sebaik-baiknya seorang ibu, tanpa sikap yang baik dan keteladanan seorang ayah, tetap merupakan sebuah masalah pelik dalam kebahagiaan keluarga.
2. Ayah yang tidak menyadari fungsinya sebagai kepala keluarga dan tidak mengandalkan Tuhan adalah kepala keluarga yang sedang memimpin sebuah generasi menuju malapetaka dan kebinasaan.
3. Kekerasan hati hanya menimbulkan masalah, dan semakin menjauhkan seseorang dari keharmonisan dan kebahagiaan
4. Sebaliknya, pribadi yang menginjinkan Roh Kudus diam di dalam hati, mampu merubah keadaan seseorang bahkan memperbaiki keadaan yang kacau.
Jangan biarkan keadaan yang kacau dan tanpa Tuhan terjadi berlarut-larut, karena seperti penyakit akut yang dibiarkan hal tersebut justru membinasakan..
Berikut tips untuk menjadi bapak yang hebat:
1. HORMATILAH IBU ANAK-ANAK ANDA.
Salah satu hal terbaik yang dapat dilakukan Ayah bagi anak-anaknya adalah menghormati Ibu mereka. Kalau Anda menikah, jagalah pernikahan Anda agar tetap kuat dan penuh vitalitas.
2. LEWATKANLAH WAKTU BERSAMA ANAK-ANAK ANDA.
Bagaimana seorang Ayah melewatkan waktunya mengatakan apa yang penting baginya. Kalau Anda tampaknya selalu terlalu sibuk untuk anak-anak Anda, mereka akan merasa ditelantarkan, apapun yang Anda katakan.
3. Berikan waktu yang banyak untuk berdialog dengan Anak-anak anda
sering satu-satunya saat sang Ayah bicara kepada anak-anaknya adalah ketika mereka melihat anaknya melakukan suatu kesalahan. Mulailah bicara kepada anak-anak ketika mereka masih kecil, sehingga topik-topik sulit akan lebih mudah ditangani ketika mereka semakin besar. Luangkanlah waktu dan dengarkanlah ide-ide serta persoalan-persoalan mereka.
4. DISIPLINKANLAH DENGAN KASIH.
Semua anak butuh bimbingan dan pendisiplinan, bukan sebagai hukuman, melainkan untuk menetapkan batasan-batasan yang masuk akal. Ingatkanlah anak-anak Anda akan ganjaran perbuatan mereka dan berikanlah imbalan yang berarti atas perilaku yang diinginkan.
5. MODEL PERAN.
Para Ayah adalah model peran bagi anak-anaknya, entah mereka menyadarinya atau tidak. Seorang anak perempuan yang melewatkan waktu dengan Ayahnya yang penuh kasih tumbuh dengan pengetahuan bahwa ia pantas diperlakukan dengan hormat oleh anak-anak lelaki, dan apa yang harus dicarinya dalam diri seorang suami. Para Ayah dapat mengajari putera-puteranya apa yang penting dalam kehidupan ini dengan mendemonstrasikan kejujuran, kerendahan hati, dan tanggung jawab.
6. JADILAH GURU.
Terlalu banyak Ayah yang menganggap bahwa mengajar adalah urusan orang lain. Namun seorang Ayah yang mengajari anak-anaknya tentang yang benar dan yang salah serta mendorong mereka untuk melakukan yang terbaik akan melihat anak-anaknya mengambil pilihan yang baik.
7. MAKANLAH BERSAMA-SAMA KELUARGA.
Makan bersama-sama (sarapan, makan siang, atau makan malam) bisa menjadi bagian penting dari kehidupan keluarga yang sehat. Selain memberikan struktur pada hari yang sibuk, ini juga memberi anak-anak peluang untuk membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan dan apa yang ingin mereka kerjakan.
8. BACAKANLAH CERITA BAGI ANAK-ANAK ANDA.
Mulailah membacakan cerita bagi anak-anak semenjak mereka masih kecil. Setelah mereka lebih besar, doronglah mereka untuk membaca sendiri. Menanamkan kecintaan untuk membaca adalah salah satu cara terbaik untuk memastikan anak-anak Anda mengalami pertumbuhan pribadi maupun karir seumur hidup. Bukankah dalam budaya dayak ada kebiasaan mendongeng sebelum tidur? (Penulis mengalaminya ketika masih kecil)
9. PERLIHATKANLAH KASIH SAYANG ANDA.
Anak-anak butuh ketenteraman yang berasal dari mengetahui bahwa mereka diinginkan, mereka diterima, dan dikasihi oleh keluarga. Orangtua, terutama para Ayah, perlu membiasakan diri merangkul anak-anaknya.
Memperlihatkan kasih sayang setiap harinya adalah cara terbaik untuk memberitahu mereka bahwa Anda sayang kepada mereka.
10. SADARLAH BAHWA TUGAS SEBAGAI AYAH TIDAK PERNAH SELESAI.
Bahkan setelah anak-anak besar dan siap meninggalkan rumahpun, mereka akan tetap mencari hikmat serta nasihat dari Ayahnya. Entah soal meneruskan pendidikan, pekerjaan baru, atau pernikahan, para Ayah terus memainkan peran penting dalam kehidupan anak-anak mereka sementara mereka bertumbuh dan, mungkin, menikah dan membangun keluarga sendiri.
Sumber pendukung:
1. Lesminingtyas, Orang tua berhak mengajar, bukan menghajar!, www.groups.yahoo.com
2. , Mendidik anak di tengah tantangan zaman, www.keluargasehat.com
3. Richard L. strauss, Topi ayah yang banyak, www.bible.org
4. Julianto Simanjuntak, Tidak ada anak yang sulit: Mendidik Anak dengan sukacita dan cinta melimpah, Institute Konseling LK3: www.in-christ.net.
5. A. Gianto, Keluarga Kudus, www.provindo.org
6. Rev. Sutjipto Subeno, Orang tua yang bertanggung jawab, www.grii-andhika.org
7. F. Melvin Hammond, Ayah; Apakah Ayah belum tidur?, www.lds.org
8. , 10 cara menjadi ayah yang hebat, www.niasbarat,wordpress.com
9. Hery setyo adi, Pengertian Bapak dalam bahasa Ibrani, www.cheniuntajana.wordpress.com
10. Anto, Peran bapak dalam keluarga, www.sabdaspace.org
11. Chandra wijaya, Ayah Idaman, www.candrawijaya.wordpress.com
12. Candra eijaya, Hati seorang Ayah, www.candrawijaya.wordpress.com
13. Ratna Ariani, wanted: Ayah sejati, www.ratnaariani.wordpress.com
14. Yusi elsiano, Pendekatan Ayah dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, www.perkembangananak.com
Senin, 06 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar