Tampilkan postingan dengan label Geri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Maret 2008

Musik Dan Spiritualitas


Semua orang tentunya sangat menyukai musik, akan tetapi tidak banyak orang yang menyadari manfaatnya secara mendalam. Musik[1] adalah perpaduan dari nada-nada yang diatur sedemikian rupa dan memiliki tempo sehingga menarik untuk didengar dan dinikmati. Karena keunikannya, musik bisa dikatakan sebagai salah satu “sahabat” terdekat manusia.

Tanpa musik dunia ini akan terasa hampa. Pada dasarnya segala sesuatu yang ditunjukkan atau diekspresikan oleh manusia maupun mahluk hidup lainnya selalu mengandung unsur musik. Ketika manusia atau binatang bersuara, itu adalah musik. Ketika manusia atau binatang bergerak, itu adalah musik. Ketika pohon diterpa angin, gesekan antara dahan-dahan dan dedaunannya adalah musik.[2]

Begitu berharganya nilai musik bagi kehidupan manusia, sehingga musik cenderung lebih mudah mendapat respon dari para pendengarnya. Don Campbell menyebutkan:

Dunia pada dasarnya bersifat musikal, musik adalah bahasa yang mengandung unsur-unsur universal, bahasa yang melintasi batas-batas usia, jenis kelamin, ras, agama, dan kebangsaan. Jumlah penganutnya melampaui jumlah penutur bahasa Mandarin, Inggris, Hindi, Spanyol, Rusia, dan segala bahasa lain sekaligus. Musik muncul disemua tingkat pendapatan, kelas sosial, prestasi pendidikan. Musik berbicara kepada setiap orang –dan kepada setiap spesies-. Burung-burung membuatnya, ular-ular digairahkan olehnya, ikan-ikan paus dan lumba-lumba saling menghibur dengan musik. [3]

Manusia telah lama mengenal musik. Musik berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan manusia. Berdasarkan tulisan Atan Hamdju dan Armillah windawati, musik telah ada dan berkembang sejak Zaman Purba, hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan bersejarah berupa gambar peralatan musik di Mesir, penemuan tangga nada pentatonis di Tiongkok, dan komposisi musik purba yang diciptakan oleh Jubal.[4] Musik dibagi dalam tiga bagian penting yaitu Vokal yang dibunyikan dengan suara manusia termasuk bersiul, Instrumen artinya alat-alat musik, dan Band yang merupakan campuran Vokal dan Instrumen.[5]

Nada-nada yang dimainkan sedemikian rupa dalam suatu irama, dapat merangsang pendengarnya untuk menjadi baik (positif) atau menjadi buruk (negatif). Don Campbell menyebutkan bahwa ada keterkaitan antara musik yang didengar dengan pola perkembangan dan perilaku Mahluk Hidup:

Sebagian besar diantara kita menikmati mendengarkan musik tanpa sepenuhnya menyadari pengaruhnya. Kadang-kadang musik itu merangsang, waktu lain terlampau merangsang –bahkan terlalu invasif. Apapun tanggapan kita, musik menghasilkan efek mental dan fisik. [6]

Dari beberapa hasil percobaan terbukti bahwa musik mempengaruhi keadaan fisik maupun mental mahluk hidup.[7] Musik dapat memperlambat dan menyeimbangkan Gelombang otak[8] sehingga memperbaiki kemampuan otak untuk menyerap dunia fisik dan membentuk imaji mental; mempengaruhi pernapasan, denyut jantung, nadi, tekanan darah, ketegangan otot, memperbaiki gerak dan koordinasi tubuh, mempengaruhi suhu tubuh, dan membius (mengurangi rasa sakit).[9] Berdasarkan paparan di atas, musik tentunya bisa dikaitkan dengan spiritualitas.

Kata spiritualitas berhubungan dengan kata Spirit atau Roh, yaitu daya kekuatan yang menghidupkan atau menggerakkan. Spiritualitas dapat diartikan sebagai kekuatan atau Roh yang memberi daya tahan kepada seseorang atau kelompok untuk mempertahankan, memperkembangkan, dan mewujudkan kehidupan.[10] Ketika musik diketahui memiliki daya untuk mempengaruhi fisik dan mental mahluk hidup, maka musik pun tentunya bisa digunakan untuk mendukung terbentuknya spiritualitas.

Spritualitas dapat dimiliki oleh semua kelompok atau golongan yang sedang berjuang untuk mencapai tujuan atau cita-cita mereka.[11] Kalimat ini tentunya memberi pengertian bahwa spiritualitas bukan merupakan sesuatu yang melulu didapat dari mukjizat adikodrati, melainkan dapat dibentuk melalui suatu proses dan ketekunan diri.

Spiritualitas, berawal dari disiplin2 rohani, artinya ada proses pembentukan atau proses pengolahan, dari yang tidak ada menjadi ada dan dilakukan secara konstan dan berlanjut. Mencapai suatu spiritualitas yang tinggi, tidak harus berasal dari seseorang yang pandai, cerdas atau orang berbakat, melainkan orang yang mau berpikir secara mendalam.[12] Dalam Hal ini musik berperanan sebagai media yang dapat merangsang terbentuknya spiritualitas, tentunya melalui pengolahan nada dan tempo yang sedemikian rupa, sehingga pendengarnya mengalami efek musik pada bagian fungsi otaknya. Dari efek musik tersebut, kemudian pendengarnya dirangsang untuk mengalami proses spritualitas.

Selain sebagai alat pencapaian spiritualitas, musik juga merupakan sarana untuk menggambarkan atau menunjukkan spiritualitas seseorang. Dengan musik ungkapkan perasaan hati seseorang bisa dideteksi, menyangkut pergumulan hidupnya maupun kaitan dirinya dengan Yang Maha Kuasa. Sehingga Tidak mengherankan apabila kaum beragama, yaitu orang-orang yang percaya akan adanya Tuhan sebagai Oknum tertinggi, penguasa semesta; mempergunakan musik sebagai sarana ungkapan Imannya. Tentunya Gereja pun tidak ketinggalan dalam hal ini.

Umat Perjanjian lama telah menempatkan musik pada posisi yang penting dalam ibadah mereka. Hal ini dapat kita lihat contohnya dalam kitab Mazmur. Di sana terdapat banyak kumpulan nyanyian pujian, ucapan syukur, dan penyembahan dari umat Allah, sebagai wujud ungkapan hati dan refleksi iman yang berkaitan dengan spiritualitas mereka. Kitab Mazmur memperlihatkan adanya hubungan yang hidup dan nyata antara anak-anak Tuhan dengan Tuhannya serta gambaran turun naiknya iman mereka pada masa Perjanjian Lama. Dengan Mazmur mereka bersorak-sorai keriangan atau menyatakan jeritannya dengan keras.[13] Selain Mazmur, masih ada kitab-kitab lain yang juga memuat hal yang berhubungan dengan musik dan spiritualitas, seperti: Kidung agung, Ratapan, beberapa dalam kitab Keluaran khususnya Kel.15:1-21, dan lain sebagainya.

Dalam Perjanjian Baru, puji-pujian dan penyembahan (musik) kepada Tuhan memiliki peranan penting di dalam ibadah jemaat. Salah satu ciri dari Gereja Mula-mula adalah memuji Tuhan (bnd. Kis.2:47). Dalam ibadah jemaat Perjanjian Baru, nyanyian jemaat rupanya dinyanyikan secara responsoris (contoh: Ef. 5:18-19).[14] Artinya dalam ibadah jemaat PB musik pun kerap digunakan. Abineno memahami bahwa pada masa Perjanjian Baru, nyanyian gereja memiliki dua aspek. Di satu sisi ia adalah wahana Pemberitaan Firman dan pada pihak lain sebagai alat yang diberitakan kepada jemaat untuk mengaminkan pemberitaan itu.[15] Setelah masa Perjanjian Baru, perkembangan musik gereja terjadi begitu pesat.[16]

Di Indonesia, komposisi musik dan nyanyian gereja diakui banyak bernuansa Eropa —bisa dikatakan kebarat-baratan—. Hal ini cukup beralasan karena perkembangan kekristenan di Eropa lebih dulu terjadi. Selain itu, sejak mula yang memberitakan Injil ke Indonesia dan yang mempengaruhi gaya orang Kristen di Indonesia adalah orang Eropa (Barat). Menurut Abineno, asal dari sebuah nyanyian bisa sekuler, rohani, maupun kafir.[17] Hal ini bukan merupakan masalah yang terpenting untuk dibahas. Ditambahkannya lagi bahwa yang terpenting ialah bagaimana musik itu dapat dipahami dan dinyanyikan dalam 2 aspek seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Sehingga, tidak mengherankan apabila gereja di Indonesia banyak mengadopsi unsur-unsur barat. Saat ini sebagian gereja di Indonesia telah mencoba mengangkat musik berbudaya lokal. Salah satu contohnya: GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan) yang menggunakan gamelan sebagai alat pengiring pujian jemaat.[18] Sampai saat ini kesadaran untuk menampilkan musik dengan muka lokal (kontekstual) memang terus diupayakan.

GKE sebagai salah satu Organisasi Gereja di Kalimantan pun tidak luput dari kenyataan adanya unsur barat. Terlepas dari masalah inkulturasi yang menurut saya pasti diupayakan oleh GKE kedepan, perkembangan musik Gereja di dalam GKE tentunya juga mengalami perubahan dan perkembangan. Hal yang paling nyata dari perkembangan tersebut ialah keberadaan musik dalam ibadah jemaat, yang berkembang mulai dari hanya Vokal, Instrumental (orgen) sampai dengan adanya Band, dalam ibadah minggu, khususnya di Gereja Eppata Jemaat GKE Banjarmasin.

Band digunakan sebagai pengiring nyanyian jemaat dalam Ibadah Minggu secara rutin di Gereja Eppata jemaat GKE Banjarmasin, bisa dikatakan sebagai hal baru dalam pelayanan ibadah Jemaat GKE. Penggunaan band sebagai pengiring nyanyian dalam ibadah dapat membuat nyanyian yang dibawakan terasa lebih dinamis dan bisa disesuaikan dengan trend masa kini. Selain itu, keberadaan band dapat menarik perhatian kaum muda untuk datang beribadah ke gereja.[19] Kenyataan ini menunjukkan bahwa musik memiliki efek mental dan fisik. Hal ini bisa menjadi suatu cara efektif dalam rangka pembinaan warga gereja, khususnya usia muda. Band Gereja Eppata Jemaat GKE Eppata Banjarmasin bernaung di seksi kesenian, Seksi Pelayanan Pemuda Jemaat GKE Eppata Banjarmasin.[20]

Ketika band merupakan suatu bagian baru dalam pelayanan ibadah jemaat, maka hal-hal yang bersifat teknis maupun non teknis perlu di tata maupun dikembangkan agar band tersebut bisa diterima dan dapat mendukung pelaksanaan ibadah dengan baik dan berkualitas. Sebuah band dalam pelayanan ibadah jemaat memiliki tanggung jawab penuh untuk mengiringi nyanyian dengan benar dan baik; sehingga suasana ibadah menjadi indah dan pada akhirnya mempengaruhi spiritualitas jemaat.

Sebuah band dalam pelayanan ibadah memiliki tanggung jawab teknis dan teologis. Secara teknis band harus mampu memainkan suatu komposisi musik dengan apik, tepat, dan menarik. Secara Teologis, Musik yang dibawakan mampu membangun suasana Ilahi[21] bagi jemaat sehingga mereka bisa merasakan kehadiran Tuhan di dalam Ibadah, kemudian tergerak untuk memuji dan menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa di dalam ibadah dimaksud.

Berdasarkan pengamatan sementara, kehadiran band di dalam pelayanan musik untuk ibadah Minggu sore dirasa kurang maksimal atau kurang memuaskan. Masih banyak ditemui kritikan jemaat menyangkut keberadaan band dalam pelayanan musik untuk ibadah Minggu sore. Hal-hal yang dikritik itu menyangkut musikalitas, tingkah laku personel, maupun cara berpakaian mereka.

Dominannya suara salah satu perangkat musik, riuhnya arransemen karena ketidak- tepatan penggunaan alat atau terlalu banyak menggunakan instrumen yang sejenis, tempo lagu yang tidak tepat, serta nada dasar yang digunakan terlalu rendah maupun terlalu tinggi adalah isi kritikan yang sering dilontarkan oleh jemaat. Selain itu juga sikap para pemain yang keliru dalam mengekpresikan suasana musik baik dari tingkah-laku maupun cara berpakaian menjadi permasalahan tersendiri bahkan merupakan bagian kritikan terpedas untuk para anggota band.[22]

Ketika kehadiran Band sebagai salah satu bagian pelayanan dalam ibadah Jemaat kurang maksimal, dan musik yang dibawakan dalam ibadah tidak memenuhi tanggung jawab teknis dan teologis, maka hal ini bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya problem spiritual. Maksudnya, manusia menjadi gagap dalam menjalani hidup untuk lebih bermakna dan mulai menjadi tidak mengerti patokan hidup yang tepat dan dan baik bagi dirinya, karena semuanya menjadi kabur dan kacau.

Ketika musik dikondisikan dengan baik dalam ibadah tentunya akan memberi suasana nyaman, Indah, dan jelas; kemudian berimbas kepada spiritualitas dan kehidupan jemaat. Satu dasar acuan pasti tentang status musik di dalam gereja ialah musik yang melaksanakan tugasnya sebagai wahana Pemberitaan Firman dan pada pihak lain sebagai alat untuk mengaminkan pemberitaan Firman Tersebut.

*) Pendahuluan Skripsi Geritona Sakti: Realitas Band dalam ibadah Minggu di GKE Jemaat Banjarmasin. Feb’06.



[1] Atan Hamdju, Armillah Windawati, Pengetahuan Musik, (Jakarta: Mutiara, 1978), Hal.9: Musik ialah cetusan ekspresi isi hati, yang dikeluarkan secara teratur dalam bahasa bunyi. Apabila cetusan isi hati tersebut dikeluarkan melalui mulut, maka itu disebut Vokal, dan apabila dikeluarkan lewat alat2 musik, disebut Intrumental.

[2] Kata heal (menyembuhkan) dalam northern Midlle English berarti “to make sound” (membuat sehat) ---sinonim Health (kesehatan) dan wholeness (keutuhan)--- untuk memberi makna bagi vitalitas dasariah serta fondasi tak tergoyahkan untuk apa saja yang kita lakukan...... Apabila segala sesuatu berjalan lancar, kita dikatakan in tune (selaras) dan in harmony (harmonis) dengan orang lain dan dengan dunia di sekeliling kita. Apabila segala sesuatunya terhambat, kita dikatakan out of tune (fals alias tidak selaras dan out of sync (sember alias keluar dari jalur). (untuk lebih jelasnya lihat lampiran 2).

[3] Don Campbell, Efek Mozart, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001) hal.12, alinea 1.

[4] bnd. Atan Hamdju, Armillah Windawati, Pengetahuan Musik, (Jakarta: Mutiara, 1978), Hal. 9 Alinea 1. dan Alkitab, (Jakarta: LAI, 1999).Kej. 4 : 21, tentang Yubal sebagai bapa para pemain kecapi.

[5] Atan Hamdju, Armillah Windawati, Pengetahuan Musik, (Jakarta: Mutiara, 1978), Hal. 9 Alinea 3. selain pengertian band di atas, Band pun bisa diartikan sebagai kumpulan/sekelompok orang yang bekerja sama melakukan sesuatu.

[6] Don Campbell, Efek Mozart, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001), Hal.78, alinea 3.

[7] Don Campbell, Ibid, 16: Di Biara-biara di Brittany, para biarawan memainkan musik bagi binatang-binatang piaraannya dan menemukan bahwa sapi-sapi yang mendapat musik mozart menghasilkan lebih banyak susu. Hasil penelitian lainnya dapat dilihat dalam Lampiran 3 dan 4.

[8] Don Campbell, Ibid, Hal.79-80: Sudah berulang kali terbukti gelombang otak dapat dimodifikasi baik oleh suara musik maupun suara yang ditimbulkan sendiri. Kesadaran biasa terdiri atas Gelombang Beta, yang bergetar dari 14 sampai 20 hertz. Gelombang ini terjadi apabila kita memusatkan perhatian pada kegiatan sehari-hari di dunia luar, maupun apabila kita mengalami perasaan negatif. Ketenangan dan kesadaran yang meningkat dicirikan oleh Gelombang Alfa yang daurnya mulai 8 hingga 13 Hertz. Periode puncak kreativitas, meditasi dan tidur dicirikan oleh Gelombang Theta dari 4 sampai 7 Hertz. Dan tidur nyenyak, meditasi yang mendalam serta keadaan tak sadar menghasilkan Gelombang Delta, yang berkisar dari 0.5 hingga 3 Hertz. Semakin lambat gelombang otak, semakin santai, Puas, dan damailah perasaan kita.

[9] bnd. Don Campbell, Efek Mozart, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001), hal.84-89

[10] J.B Banawiratma, SJ, Spiritualitas Transformatif, (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 2002), hal.57, alinea 1

[11] J.B Banawiratma, SJ, Ibid.

[12] Richard j. Foster, Tertib Rohani, sudahkah anda menapakinya?, (tanpa kota, tanpa penerbit, tanpa tahun) hal. 9 Alinea 1.

[13] Mangapul Sagala, Pemimpin Pujian yang Kreatif, (Jakarta: Perkantas, Cetakan Ke-3, 1995), hal.4

[14] J.L.Ch. Abineno, Ibadah Jemaat, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1987), Bab. 18.

[15] J.L.Ch. Abineno, Dasar Teologis dari Nyanyian Gereja Protestan: Nyanyian gereja dan Paduan suara Protestan, (Kumpulan Ceramah pada Konsultasi Musik Gereja 12-14 Juli 1965)

[16] H.A Pandopo, Menggubah Nyanyian Jemaat, (Jakarta: BPK Gunung Mulia.1984),hal.18-21: Perkembangan yang begitu mengesankan ini dapat di lihat dari hasil karya para komposer musik gereja khususnya pada masa reformasi gereja yang kemudian terus berlanjut hingga kini. Bnd. A. Simanjuntak, Meninjau nyanyian Gereja di Indonesia: Nyanyian gereja dan Paduan suara Protestan, (kumpulan ceramah pada konsultasi musik gereja 12-14 Juli 1965): Sebelum jaman reformasi, sekitar abad ke enam pun telah dikenal suatu komposisi nyanyian yang disebut nyanyian Gregorian Komposisi musik yang ada sejak jaman reformasi gereja yang masih digunakan hingga kini ialah lagu Mazmur, kOral (Perpaduan antara musik gregorian dan musik pribumi jerman), Hymne, dan Gospel song.

[17] J.L.Ch Abineno, J.L.Ch. Abineno, Dasar Teologis dari Nyanyian Gereja Protestan: Nyanyian gereja dan Paduan suara Protestan, (Kumpulan Ceramah pada Konsultasi Musik Gereja 12-14 Juli 1965)

[18] Informasi ini di dapat dari Bp. Frankrist Migang. Anggota jemaat GKI pregolan bunder surabaya. Selain GKJW, salah satu gereja di Manado pun telah menggunakan Kulintang sebagai alat pengiring nyanyian jemaat dalam ibadah (berdasarkan hasil pengalaman Bp. Toni Umaya ketika melakukan perjalanan dinas ke Manado pada tahun 1990).

[19] Pernyataan ini merupakan kesimpulan pendapat beberapa pemuda (i) yang di wawancara secara acak pada tanggal 9 Januari 2005.

[20] Keterangan Oma Alfianus, wawancara, 8 Januari 2005.

[21] Suasana yang menegaskan adanya kehadiran Allah. Digambarkan dengan lantunan nada yang memikat, nada yang seolah memiliki jiwa dan harmonis, sehingga membawa jemaat yang beribadah masuk dalam kekhusyukan beribadah. Kesimpulan ini didapat berdasarkan pengalaman penulis mengikuti beberapa kali ibadah KKR yang dilaksanakan oleh salah satu aliran gereja Karismatik.

[22] sesuai hasil Observasi dan pengalaman Penulis selama bergabung sebagai anggota band SPPJ Gereja Eppata Jemaat Banjarmasin.