Pendahuluan
Dalam Buletin Pemuda SPPJ GKE Eppata Banjarmasin tertanggal 05 Nopember 2005 terpampang suatu topik yang berbunyi: “Pantaskah Berpakaian Mini dan Seksi di Gereja?”. Suatu kalimat pertanyaan yang singkat namun memiliki makna mendalam ketika diperhadapkan dengan konsep religius. Sesungguhnya cara berpakaian seseorang adalah hak mutlak orang itu sendiri, merupakan kebebasan dan bagian dari aktualisasi diri. Akan tetapi ketika diperhadapkan dengan etika sosial dan standar religius, maka cara berpakaian menjadi satu bagian penilaian yang menggambarkan keadaan atau status maupun tingkat penghargaan diri orang lain terhadap yang bersangkutan dalam suatu lingkungan pergaulan sosial.
Cara berpakaian yang seksi merupakan bagian dari globalisasi yang mempengaruhi jemaat dan menimbulkan masalah bagi banyak gereja.[1] Demikian penggalan kalimat dalam buletin tersebut berpendapat. Saat ini yang menjadi pertanyaan yang perlu dibahas ialah Pantaskah menggunakan Model-model pakaian seksi, mini, dan terbuka dalam kegiatan rohani atau ke gereja? bagaimana sebenarnya pola berpakaian yang ideal itu sesungguhnya? Benarkah berpakaian seksi, mini, dan terbuka hanya terjadi dalam trend masa kini?
Paparan Konsep
a. Konsep berpakaian menurut Alkitab
Berdasarkan penelusuran cerita Alkitab, khususnya dalam Perjanjian lama, Kitab Kejadian sebagai titik tolak keberimanan agama bangsa Israel dan Kekristenan, manusia pada mulanya dikenal sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang telanjang, tidak bercacat cela, serta segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26-27). Begitu mulianya manusia, sehingga mereka merasa bahwa ketelanjangan bukan merupakan keadaan yang memalukan bahkan ketelanjangan bisa dikatakan sebagai bagian dari kesucian dan kenyataan yang membanggakan (Bnd. Kej.2:25).
Namun, ketika manusia jatuh ke dalam dosa, mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Di dalam Kej. 3 dikatakan “mata mereka terbuka dan mereka tahu bahwa mereka telanjang”. Suatu peristiwa yang menggambarkan manusia telah mengalami “pengetahuan” sehingga mereka menyadari keadaan dirinya dan menjadi malu akan dirinya bahkan kepada Tuhan (Kej.3:10-11). Dari peristiwa ini, manusia dikatakan mendapat hukuman (kutuk) dari Tuhan, akan tetapi Allah tetap mengasihi manusia. Keduanya kemudian dibuatkan Pakaian oleh Allah dari Kulit binatang, dan untuk pertama kalinya secara langsung sesuai cerita Kejadian, Allah sendiri yang memakaikan (mengenakan) pakaian tersebut kepada manusia dan Istrinya (Kej.3:21).
Cerita di atas bisa dikatakan sebagai titik tolak peradaban cara berpakaian bangsa-bangsa timur tengah, khususnya bangsa Israel. Karena, cerita kejadian merupakan benang merah dari suatu “Drama Penyelamatan Allah”[2], Yang dimulai dari sejarah universal dan kemudian berkaitan dengan pemunculan tokoh Abraham sebagai “orang terpilih” yang memulai cerita tentang Sejarah “bangsa pilihan”.
Cara berpakaian bangsa Israel pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor Interen maupun faktor Ekstern. Faktor Intern artinya bahwa ada model-model peradaban berpakaian tertentu yang di atur atau ditentukan oleh pewahyuan atau Perintah Allah –dalam hal ini oleh agama--, contohnya pakaian Imam, pakaian bagi orang sakit, maupun pakaian kabung (dukacita) dsb.[3] Sedangkan faktor Ekstern yaitu model-model peradaban berpakaian yang dipengaruhi oleh perkembangan kehidupan sosial dan budaya Asia Kuno waktu itu. Ensiklopedi Alkitab memaparkan bahwa pakaian dalam peradaban Asia Barat Kuno ialah untuk laki-laki; Cawat (zaman perunggu II dan III), Kemeja (Z. Perunggu III dan Besi), dan Jubah. Sedangkan untuk perempuan hampir sama dengan laki-laki, hanya saja bahannya lebih halus, dan ragam warnanya lebih banyak, dan biasanya perempuan menggunakan tudung kepala serta semacam selendang yang bisa digunakan untuk membungkus barang.[4]
Berdasarkan Penelusuran Ayat-ayat Alkitab yang dilakukan oleh kelompok menggunakan program Alkitab Elektronik; ditemukan bahwa paling tidak ada 5 (lima) Konsep pakaian dalam Alkitab:[5]
1. Pakaian adalah pelindung badan dan penutup tubuh
Kejadian 3 :21. Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.
Kejadian 28:20 Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai,
2. Pakaian adalah tanda pengenal (bagian dari jati diri)
Kejadian 27 :15 Kemudian Ribka mengambil pakaian yang indah kepunyaan Esau, anak sulungnya, pakaian yang disimpannya di rumah, lalu disuruhnyalah dikenakan oleh Yakub, anak bungsunya.
Kejadian 27:27 Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: "Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN.
Kejadian 35:2 Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu.
Kejadian 38:19 Bangunlah perempuan itu, lalu pergi, ditanggalkannya telekungnya dan dikenakannya pula pakaian kejandaannya.
Imamat 13:45 Orang yang sakit kusta harus berpakaian yang cabik-cabik, rambutnya terurai dan lagi ia harus menutupi mukanya sambil berseru-seru: Najis! Najis!
Imamat 19:19 janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan. Ulangan 22:11 Janganlah engkau memakai pakaian yang dua jenis bahannya, yakni bulu domba dan lenan bersama-sama.
Amsal 31:25 Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.
3. Pakaian adalah Tanda Kebesaran
Kejadian 24:53 Kemudian hamba itu mengeluarkan perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran, dan memberikan semua itu kepada Ribka; juga kepada saudaranya dan kepada ibunya diberikannya pemberian yang indah-indah.
Kejadian 41:42 Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya.
Keluaran 28:2 Haruslah engkau membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, sebagai perhiasan kemuliaan. (ayat 4) Inilah pakaian yang harus dibuat mereka: tutup dada, baju efod, gamis, kemeja yang ada raginya, serban dan ikat pinggang. Demikianlah mereka harus membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, dan bagi anak-anaknya, supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku.
Matius 21:7 Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya. (ayat 8) Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.
4. pakaian adalah symbol keadaan diri secara utuh
Kejadian 49 : 11 Ia akan menambatkan keledainya pada pohon anggur dan anak keledainya pada pohon anggur pilihan; ia akan mencuci pakaiannya dengan anggur dan bajunya dengan darah buah anggur.
Keluaran 19:10 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Pergilah kepada bangsa itu; suruhlah mereka menguduskan diri pada hari ini dan besok, dan mereka harus mencuci pakaiannya
Keluaran 29:21 Haruslah kauambil sedikit dari darah yang ada di atas mezbah dan dari minyak urapan itu dan kaupercikkanlah kepada Harun dan kepada pakaiannya, dan juga kepada anak-anaknya dan pada pakaian anak-anaknya; maka ia akan kudus, ia dan pakaiannya, dan juga anak-anaknya dan pakaian anak-anaknya
Imamat 13:6 Kemudian pada hari yang ketujuh haruslah imam memeriksa dia untuk kedua kalinya; bila penyakit itu menjadi pudar dan tidak meluas pada kulit, imam harus menyatakan dia tahir; itu hanya bintil-bintil. Orang itu harus mencuci pakaiannya dan ia menjadi tahir.
Ulangan 22:5. "Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu.
I Samuel 3:31 Dan berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada segala rakyat yang bersama-sama dengan dia: "Koyakkanlah pakaianmu dan lilitkanlah pada tubuhmu kain kabung dan merataplah di depan mayat Abner." Raja Daud sendiripun berjalan di belakang usungan mayat.
Matius 22:11 Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. (ayat 12) Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.
5. pakaian adalah symbol Hak Azasi Hidup seseorang (bnd. Tanda Kebesaran).
Keluaran 21:10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia.
Keluaran 22:9 Dalam tiap-tiap perkara pertengkaran harta, baik tentang seekor lembu, tentang seekor keledai, tentang seekor domba, tentang sehelai pakaian, baik tentang barang apapun yang kehilangan, kalau seorang mengatakan: Inilah kepunyaanku--maka perkara kedua orang itu harus dibawa ke hadapan Allah. Siapa yang dipersalahkan oleh Allah haruslah membayar kepada temannya ganti kerugian dua kali lipat.
Ulangan 24:17 Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai
Dari kelima konsep di atas serta paparan singkat mengenai peradaban berpakaian bangsa Timur tengah dan Alkitab, terlihat bahwa konsep berpakaian mengalami perubahan secara dinamis, dari yang sederhana menuju hal yang lebih kompleks sesuai masanya. Dari “ketelanjangan” menuju “ketertutupan”. Kini, sesuai dengan keadaan jaman, kita akan kesulitan untuk menemukan Bangsa Israel atau masyarakat Israel berpakaian seperti penggambaran Alkitab zaman dahulu. Karena jamannya telah berubah, dan Bila Kita perhatikan di televisi, khususnya berita-berita tentang pertikaian Palestina-Israel, terlihat bahwa cara berpakaian masyarakat Israel sudah sedemikian majunya. Dan, tidak menutup kemungkinan bahwa model-model pakaian yang global pun telah biasa digunakan di sana saat ini, baik itu untuk kegiatan sehari-hari serta untuk kegiatan religius.
b. Konsep Berpakaian Orang Dayak
Menggali konsep berpakaian orang dayak tidaklah gampang. Hal ini dikarenakan oleh terbatasnya bahan-bahan atau data-data tertulis yang dengan gamblang memaparkan tentang konsep-konsep berpakaian orang dayak. Untuk menghindari kebuntuan, maka kelompok akan berupaya memaparkan konsep peradaban berpakaian orang dayak dengan memaparkan beberapa faktor-faktor pendukung dalam proses terjadinya peradaban berpakaian orang dayak.
1. asal usul penamaan orang dayak
berdasarkan pengertian penyebutan, Dayak bisa berarti stam-stam yang tidak beragama Islam yang mendiami pedalaman kalimantan dan berarti orang gunung.[6] Dalam buku Maneser Panatau, Nila Riwut menulis bahwa Istilah dayak berkaitan dengan istilah Dyak dalam pemahaman orang Inggris untuk menyebutkan suku-suku dayak di kalimantan Utara. Dan hingga kini masih belum diketahui adanya keterkaitan pengertian bahwa Dayak berarti orang gunung. Fakta mungkin benar yang menyebutkan bahwa orang dayak sebagian besar tinggal di udik sungai yang tanahnya bergunung-gunung, namun tidak berarti bahwa orang dayak itu orang gunung.[7] Dalam pemahaman jalan tengah, Kata Dayak lebih merupakan kata sifat, yang menunjukkan kekuatan. Dalam bahasa Sangen, Dayak berarti bakena yang artinya gagah, cantik.[8]
2. Sifat dan sikap terhadap Alam
Secara umum orang dayak baik laki-laki maupun perempuan memiliki jiwa Ksatria, pemberani dan pantang menyerah. Hal ini bisa terjadi dikarenakan situasi dan kondisi alam, khususnya di masa lalu menuntut mereka untuk mampu menghadapi keganasan alam. Waspada, energik dan harus selalu waspada adalah cara suku dayak menyikapi tantangan alam yang hari demi hari harus mereka hadapi bila ingin bertahan hidup.[9]
3. Interaksi Kepada sesama
Terhadap pemimpin yang telah diakui, Orang dayak sangat taat dan setia.[10] Kepada orang yang masih asing, orang dayak tidak begitu saja percaya. Akan tetapi,apabila kepercayaan telah tumbuh, mereka akan sangat bersahabat dan terbuka.[11] Kepada para pendatang atau tamu yang datang berkunjung, orang dayak sangat hormat dan selalu ingin bersahabat.[12] Dalam menjalani kehidupan, umumnya orang dayak bersikap mamut, menteng, Ureh, mameh. (kepahlawanan, keperkasaan, gagah, tolol—tanpa pikir panjang--)
4. Kemampuan Spiritual
Kedekatan orang dayak dengan alam menjadikan mereka selalu mengamati gerak lembut perubahan alam.[13] Yang menyebabkan mereka mampu bersatu dengan alam. Hal ini kemudian menjadikan mereka mampu menyerap getaran alam yang tumbuh dan berkembang menjadi kemampuan spiritual.[14]
5. Simbol dan kepercayaan
Orang dayak seperti paparan sebelumnya, hidup dalam suasana alam bebas. Yang pada akhirnya membentuk karakter dan cara berpikir yang khas. Salah satu wujudnya dinyatakan dengan adanya proses interaksi dengan alam yang menyebabkan mereka kemudian memiliki kemampuan spiritual, dan oleh keadaan tersebut kemudian mereka memiliki kepercayaan yang dinyatakan dalam pernyataan-pernyataan simbol alam yang dihormati. Contohnya: Burung tingang sebagai perwujudan penguasa Alam atas, Kerbau sebagai perwujudan pengorbanan, Buaya sebagai penguasa sungai, Beras sebagai media komunikasi antara manusia dengan Ranying Hatalla, Telur sebagai lambang kedamaian dan ketentraman, dsb.[15] Dalam hal ini simbol dan kepercayaan mempengaruhi cara berpakaian mereka.
Nila Riwut dalam buku “Maneser panatau” menjabarkan secara singkat ciri khas pakaian orang dayak jaman dahulu, yakni: bahan pakaian dari kulit kayu siren atau kayu nyamu, terkadang juga dari kulit hewan dalam tulisannya ia mencontohkan kulit macan dahan lengkap dengan ekornya. Berbentuk lembaran panjang yang menutupi tubuh sampai di atas lutut (seperti daster).[16]
Berdasarkan penelusuran foto-foto, diketahui bahwa peradaban berpakaian orang dayak pun mengalami banyak perubahan. Dari data foto yang diambil tahun 1912, terlihat bahwa perempuan dayak telah mengenal sarung sebagai penutup tubuh. Namun, tidak semua bagian tubuhnya yang ditutupi dengan jenis pakaian tersebut. Memang ada yang telah berpakaian lengkap, namun ditemui pula foto yang menggambarkan perempuan dayak yang bertelanjang dada (Gambar 1 dan 2). Sedangkan kaum laki-laki menggunakan cawat (gambar 1 dan 3, 4) dengan tambahan ornamen pendukung. Dari foto yang diambil pada Tahun 1916, terlihat bahwa peradaban berpakaian sedikit maju bagi kaum wanita telah sepenuhnya menggunakan kain, walau terlihat bahwa masih banyak yang terbiasa dengan gaya “telanjang dada”. Ketika penginjilan mulai masuk ke tanah Kalimantan, khususnya ke masyarakat dayak Ngaju, terjadi perubahan cara berpakaian yang begitu signifikan. Dalam foto 6, betapa terlihat perbedaan cara orang berpakaian orang dayak yang –mungkin— belum kristen dengan orang dayak yang Kristen.
Dari paparan di atas tentang model berpakaian orang dayak, penelusuran foto-foto, dan serta faktor-faktor pendukung peradaban cara berpakaian orang dayak; dapat disimpulkan bahwa peradaban berpakaian orang dayak pertama-tama tergantung dari situasi sosial yang dominan mempengaruhi, cenderung mencari model yang feminim atau maskulin, dan terakhir bahwa apapun yang mereka pakai merupakan penggambaran dari keadaan diri maupun kepribadiannya.
Berteologi dalam konteks
Paparan konsep peradaban berpakaian di atas bisa dikatakan sebagai sebuah romantika yang berusaha membawa kita kepada kesadaran akan kenyataan yang pernah terjadi. Keadaan saat ini tidak akan pernah ada bila peradaban masa lalu tidak pernah terjadi. Artinya peradaban cara berpakaian saat ini terjadi karena melalui proses peradaban cara berpakaian di masa lalu.
Konsep Alkitab maupun sejarah peradaban Asia barat kuno memberi gambaran bahwa telah terjadi suatu dinamika dalam peradaban cara berpakaian. Dalam kurun waktu tertentu terlihat adanya perubahan dari “ketelanjangan” yang mutlak menuju “ketertutupan” cara berpakaian sesuai masa dan peradaban sosial masyarakat. Pada mulanya ketelanjangan dipahami sebagai sebuah kenyataan maupun kemuliaan. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pengetahuan manusia, maka ketelanjangan menjadi sebuah rasa malu sehingga harus ditutupi.
Ketika Allah menciptakan dunia dengan segala isinya, semuanya dalam pandangan Allah adalah sungguh baik, termasuk manusia dan keberadaannya (Kej.1:31). Namun ketika manusia jatuh kedalam dosa, Hal yang baik itu menjadi cacat. Dan hubungan Allah dengan manusia pun rusak. Namun Allah masih menunjukkan kasihNya yang besar, dengan tetap menyertai manusia walaupun manusia mau-tidak mau harus mengalami konseksuensi hukuman Allah akibat pelanggarannya (Kej.3:14-19), Allah masih tetap mengasihi manusia dengan pernyataan bahwa Allah kemudian membuatkan kepada manusia sebuah pakaian dari Kulit binatang untuk dikenakan mereka pertama kalinya (Kej.3:21). Kemudian pula dalam sejarah perjalanan bangsa Israel, Allah masih tetap campur tangan dalam hal pengaturan tata peribadatan umat Israel, salah satunya dalam hal pengaturan pakaian Imam di kemah Suci (Kel.28:2,4). Dari keadaan ini Allah memberikan manusia suatu inspirasi seni dalam membuat pakaian yang indah. Hal ini menunjukkan pula betapa Allah begitu memperhatikan manusia dan menginginkan bahwa manusia menjadi ciptaan yang berharga walaupun kenyataannya dalam dosa.
Kehadiran Kristus di dunia pun merupakan wujud perhatian Allah, dan betapa Allah berusaha membuat hubungan manusia denganNya kembali baik. Melalui pengorbananNya di Kayu salib, Kristus membuktikan bahwa Allah begitu perhatian dan sayang kepada manusia (Yahanes 3:16). Kemudian setelah Yesus bangkit ke Sorga, Roh Kudus menyapa dan hadir dalam diri manusia sehingga manusia memiliki kemampuan menjalani hidup dan mengisi hidup dengan kreatifitas (Yohanes 14:16). Cara berpakaian adalah salah satu wujud dari campur tangan Roh Kudus dalam kehidupan.
Dalam kehidupan masyarakat dayak, “ketelanjangan” terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap keadaan diri, sehingga kadar rasa malu rendah. Seiring berjalannya waktu dan semakin bertambahnya pengetahuan, rasa malu pun semakin besar yang menyebabkan timbulnya kesadaran untuk “menutupi” bagian yang dianggap memalukan. Budaya dayak berkembang berdasarkan pengalaman masyarakat dayak dari waktu ke waktu. Berdasarkan paparan konsep sebelumnya terlihat bahwa pengalaman itu di dapat murni berdasarkan pengalaman yang dialami dalam kehidupan sehari-hari melalui proses “trial and error” sehingga tidak mengherankan apabila konsep peradaban kehidupan mereka –termasuk pola berpakaian— berjalan secara alamiah sesuai proses perubahan sosial dan perjumpaannya dengan “dunia” baru. Ketika ia berjumpa dengan suatu suasana yang baru dan berbeda, terkadang ketika hal itu dianggap baik maka terjadilah dengan cepat suatu perubahan. Namun, ketika hal itu dianggap kurang baik maka, mereka akan tetap bertahan pada tatanan yang telah ada. Inilah kenyataan dari proses peradaban budaya dayak, sebuah proses yang berdasarkan realita, suatu religi yang berdasarkan pengalaman dan penghayatan, dan bukan wahyu.
Ketika diperhadapkan dengan konteks masa kini, disaat timbul wacana tentang cara berpakaian yang seksi, mini dan terbuka, Tentunya menimbulkan suatu keadaan sungsang dalam peradaban berpakaian. Karena dalam perjalanan sejarah Alkitab dan Budaya dayak prosesnya dimulai dari “ketelanjangan menuju ketertutupan”, namun masa yang terjadi kini menyatakan bahwa telah terjadi proses menuju “ketelanjangan”. Akan tetapi ada satu catatan penting bahwa ternyata, proses “ketelanjangan” menuju “ketertutupan” lalu “ketertutupan” menuju “ketelanjangan” itu berjalan secara simpang siur, artinya perjalanannya tidak seperti suatu proses garis lurus, melainkan berjalan secara turun-naik, bolak-balik. Hal apa saja yang menyebabkan hal ini terjadi?
Hal pertama seperti yang sudah disebutkan dalam paparan sebelumnya ialah perkembangan pengetahuan yang menyebabkan suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya dari yang tradisional menjadi modern. Dalam hal ini: “……….sistem kepercayaan dan pandangan dunia berubah sifatnya menjadi lebih universal, di mana masyarakat dunia seluruhnya mendapatkan tempat dan arti. Bersamaan dengan itu terjadilah sekularisasi………aktivitas-aktivitas penting, sifatnya menjadi lebih otonom. Juga agama dan pandangan hidup berkurang kaitannya dengan aktivitas-aktivitas lain”.[17] Dalam hal ini nilai etis menjadi relativ dan kolektif berdasarkan penilaian pribadi-pribadi yang memahaminya, sesuai kesepakatan sosial masyarakat setempat. Seperti yang dikatakan oleh M.P lambut dalam wawancara tentang Musik dan Budaya, “Jawaban suatu kebenaran di dapat pada orang yang merasakan dan melaksanakan apa yang dilakukannya, bila mereka merasa senang dan puas serta cocok, yah, begitulah yang benar.”[18]
Hal kedua yang mengikuti modernisasi yaitu kesadaran untuk menyatakan diri. Modernisasi telah membuka peluang bagi seluruh umat manusia untuk ambil bagian dalam proses peradaban sesuai dengan kemampuan dan eksistensi dirinya. Abraham Maslow mengemukakan bahwa keinginan untuk mengaktualisasikan diri ada pada diri kita masing-masing sebagai suatu keinginan yang inheren, yang dibawa sejak lahir.[19] Di dalam aktualisasi diri terdapat egoisme[20].
Adanya aspek modernisasi dan pengaktualisasian diri membuat manusia kemudian berlomba-lomba untuk mencari nilai hakiki dari makna kehidupan ini. Yang pada akhirnya berujung pada konsep instan, efektiv, ekonomis dan minimalis. Sehingga tidak mengherankan apabila hal ini berpengaruh pada cara berpakaian dan model pakaian. Namun, selain itu, aspek modernisasi dan aktualisasi diri pun turut mendorong manusia untuk menganggap bahwa Penilaian dari diri pribadinya adalah penilaian yang paling benar, walaupun subjektif.[21]
Wujud teologi Kontekstual
Teologi kontekstual selalu menyadari bahwa kebudayaan, sejarah, bentuk-bentuk pemikiran kontemporer, dan seterusnya harus diindahkan, bersama dengan kitab suci dan tradisi, sebagai sumber-sumber yang absah untuk ungkapan teologis.[22] Untuk menjawab keadaan tersebut sesuai permasalahan yang ada dalam bahasan makalah ini, maka kelompok akan mencoba berteologi dengan cara sintesis[23] yang sifatnya dialogis. Wujud teologi yang kami tawarkan disebut sebagai Teologi realitas. Teologi realitas ingin mengatakan bahwa kenyataan yang ada saat ini bukanlah suatu keadaaan yang tidak baik melainkan suatu kenyataan dari kejadian yang apa adanya, sebagai wujud dari pernyataan diri manusia sebagai manusia yang beradab dan dan ber-Tuhan dalam konteks modern.
Di dalam paparan sebelumnya dengan jelas kita telah membaca bahwa ada lima konsep pakaian yang dipahami melalui pernyataan ayat-ayat Alkitabiah yaitu pakaian sebagai pelindung badan, tanda pengenal, tanda kebesaran, simbol keadaan diri yang utuh, dan simbol hak azasi hidup seseorang. Ketika dikaitkan dengan kelayakan seseorang datang beribadah dari cara berpakaian, berdasarkan penelusuran kelompok terhadap ayat-ayat Alkitab, hal tersebut tidak ditemukan. Namun secara tersirat ada satu ayat yang dengan arif dan tegas mengatakan bahwa beribadah kepada Allah harus menurut cara yang berkenan kepadaNya, yaitu dengan hormat dan takut (Ibrani 12:28). Dalam hal ini Allah lebih melihat hati manusia yang datang kepadaNya untuk beribadah karena Allah adalah Roh (Yohanes 3:23-24). Kalimat hormat dan takut dalam hal ini lebih mengarah kepada persepsi pribadi secara subjektif dan terlepas dari cara berpakaian. Ditambah lagi dalam ayat lain bahwa Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya (Yakobus 1:26). Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang (Markus 7:23). Namun, bukan berarti kelompok kemudian seolah memberi lampu hijau terhadap kebebasan berpakaian yang berlebihan. Karena ternyata ketika didalami konsep ajaran etis alkitab dapat dipahami dengan jelas bahwa, Pemahaman dari hati yang keliru menimbulkan “dosa” bagi orang itu sendiri. Kelompok mengatakan demikian karena mengacu pada Markus 7:23, Bahwa hal jahat pertama-tama timbul dari dalam hati dan menajiskan orang. Ketika seseorang berpakaian dengan alasan untuk menarik perhatian orang lain dengan cara “mengeksploitasi” bagian tubuhnya, apalagi ketika beribadah maka hal itu adalah sebuah perbuatan dosa. Demikian pula dengan kenyataan bahwa mungkin ia berpakaian yang tidak terbuka –tertutup- dan “mengumbar nafsu” tetapi menonjolkan kesombongan, pun sebuah perbuatan dosa. ini sebuah realita etis alkitab yang menegaskan bahwa sangat tipis batasan antara perbuatan dosa dan yang bukan perbuatan dosa, batasannya berasal dari Hati, dan Tuhan menyatakan kenyataan ini sebagai sebuah realita hidup di dunia.
Alkitab menjelaskan bahwa memang ada beberapa bentuk pakaian tertentu yang memang memiliki fungsi khusus dalam ibadah khususnya bagi imam (Kel.28:2), akan tetapi bagi umat yang datang dalam ibadah, khususnya dalam tata ibadah Yahudi haruslah yang pertama-tama bersih tidak bernoda, sedangkan mengenai jenis pakaiannya tidak diatur secara ketat. Kalaupun pada waktu itu ada pakaian khusus bagi umat untuk pergi beribadah, maka bentuknya seperti yang dijabarkan dalam paparan konsep diatas, artinya bentuk pakaiannya bergantung pada masa peradaban yang bersangkutan, yang tidak menutup kemungkinan bahwa pada masanya pakaian yang digunakan masih tidak tertutup, maupun masih sederhana dan mungkin bisa dianggap sebagai pakaian mini, seksi, dan terbuka. Namun semuanya kembali kepada konsep, bahwa hal tersebut digunakan berdasarkan perasaan Hati, kesalahan memahami perasaan hati bisa menimbulkan dosa maupun sebaliknya.
Sesuai pula dengan paparan konsep peradaban berpakaian dalam budaya dayak, maka ditemui suatu kondisi bahwa telah terjadi perubahan yang signifikan di masa kini dari cara berpakaian orang dayak. Apabila pada jaman dahulu orang dayak berpakaian hanya cenderung menutupi bagian bawah tubuh, atau mungkin menutupi bagian Vitalnya –untuk kaum lelaki— maka ketika peradaban semakin maju kita temui bahwa orang dayak telah mahir berpakaian layaknya masyarakat kebanyakan bahkan tidak sedikit ditemui mereka mampu berpakaian dengan menonjolkan sisi maskulin maupun feminim mereka.
Modernisasi adalah suatu keadaan yang tidak dapat ditolak untuk terjadi, dan modernisasi memberikan tantangan kepada manusia untuk mampu bersaing serta mampu menghadapi perubahan dan terbiasa dengan perubahan tersebut. Ketika manusia tidak mampu melewati maupun menghadapinya, maka manusia akan dengan sendirinya kalah bahkan tersudut di pinggiran peradaban. Di dalam proses modernisasi persaingan dalam berbagai bidang bukanlah hal yang mustahil, termasuk di dalamnya persaingan dalam wujud perang pengetahuan dan etika. Di satu sisi ada masyarakat yang mempertahankan pola tradisional dan di sisi lain mengajukan pola yang dianggap lebih maju dan lebih baik. Dalam kondisi seperti ini hikmat menjadi sangat penting, dalam rangka membawa manusia terhindar dari keterpurukan sekaligus pula melangkah dalam peradaban.
Aktualisasi diri merupakan bagian dari kepribadian. Dunia adalah kenyataan yang sebenarnya dan diri pribadi adalah kenyataan yang sebenarnya. Kejujuran pada diri sendiri membuat kita mampu menyatakan pikiran dan emosi yang sebenarnya. Apapun yang dipilih adalah bagian dari kenyataan yang sebenarnya. Ketika berpakaian seksi, mini, dan terbuka adalah kenyataan yang sebenarnya, maka dalam konsep aktualisasi diri itulah realitas dari kehidupan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam kehidupan sosial, suatu individu akan bertemu dengan individu lainnya yang memiliki konsep kebenaran dan konsep diri yang mungkin berbeda. Hal ini menyebabkan timbulnya konflik. Seperti yang terjadi dalam bahasan makalah ini. Teologi realitas ingin mengatakan bahwa inilah kenyataan, ada perjumpaan berbagai macam kebenaran dan aktualisasi diri dari berbagai individu yang menyebabkan aktualisasi diri suatu individu menjadi kurang tepat menurut kebenaran individu lain maupun sebaliknya dalam suatu lingkungan sosial.
Teologi realitas menyatakan bahwa kenyataan yang terjadi menuntut seluruh komponen melihat keadaan ini sebagai sebuah kenyataan yang perlu di-dialog-kan bersama untuk menemukan jalan tengah sesuai konsensus bersama. Untuk konsep berpakaian yang Ideal, Teologi realitas menuntun Individu untuk menyadari bahwa berdasarkan kenyataan, Pergi beribadah bukan untuk menonjolkan diri, melainkan merendahkan diri.[24] Sesuai dengan konsep realitas, maka cara berpakaian yang ideal haruslah mengacu pada kesadaran diri, keinginan Hati yang tulus, situasi dan kondisi yang tepat dan semangat menghargai diri serta menghargai individu lain sebagai perwujudan kenyataan hidup di dunia Ciptaan Allah ini.
Kesimpulan
Dalam teologi realitas yang dikembangkan kelompok, cara berpakaian yang ada, baik itu sifatnya tertutup maupun terbuka merupakan sebuah kenyataan yang sebenarnya. Pantas tidaknya seseorang menggunakan pakaian itu tergantung dari “rasa” si pemakai dan pengetahuan si pemakai dan kebenaran kolektiv dari lingkungan sosial suatu individu berada serta situasi lingkungan secara alamiah. Modernisasi telah membawa manusia untuk masuk dalam konsep serba instan, effektiv, ekonomis dan minimalis. Peradaban yang begitu menekan manusia membuat manusia menjadi lelah, serta kemudian cenderung untuk membuat segala sesuatu terkesan mudah dan ringkas. Apa yang terasa nyaman menurutnya itulah yang terbaik. Sebuah reaksi kritis atas sesuatu yang diaktualisasikan seorang manusia dalam pandangan manusia lain adalah bagian dari realitas. Sebagai subjek, manusia akan selalu menilai dan tidak lepas dari penilaian sesamanya. Manusia dengan segala keberadaannya adalah bagian dari ciptaan Allah. Dan segala yang diciptakan Allah pada dasarnya adalah baik (Kej.1:31). Pakaian adalah hasil karya manusia karena pengetahuannya. Manusia mendapat pengetahuan untuk membuat pakaian karena Allah mengajarkannya (Kej.3:21). Jenis-jenis pakaian yang ada saat ini, yang indah, seksi, sopan, nyaman serta apapun sebutannya adalah bagian dari aktualisasi diri yang menyatakan keberadaan manusia sebagai mana dia ada dalam pengaruh modernisasi dan perubahan sosial. Dan, kontrol Iman serta Kenyataan Alkitabiah adalah suatu hal yang penting, Karena iman menuntun pengetahuan; Pengetahuan membawa iman pada kenyataan. Alkitab memberi jalan untuk menyadari bahwa Potensi diri yang di sebut kehendak hatilah penentu aksi dan reaksi dalam suatu lingkungan sosial.
Daftar Pustaka
Wawancara:
Lambut, M.P, Banjarmasin, 12 Oktober 2005.
Program Alkitab:
Kasenda J.F, Program Alkitab Elektronik, (Jakarta:LAI-www.yayasansabda.org, 1999-2001).
Buku-buku:
Alkitab, Jakarta:LAI,1990
Buletin Pemuda SPPJ Jemaat Eppata, Banjarmasin: SPPJ GKE Eppata Banjarmasin, 5 Nopember 2005.
Bevans, Stephen, B., Model-model teologi Kontekstual Jilid I: berteologi dalam konteks, Maumere: LPBAJ-Seminari Tinggi Ledareo, 2000.
Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, Jakarta: yayasan Bina Kasih-OMF, 2000.
Poduska, Bernad, 4 Teori kepribadian, Jakarta: Restu Agung, 2000.
Riwut Nila, Maneser Panatau Tatu Hiang: menyelami kekayaan Leluhur (kumpulan tulisan Cilik Riwut), Palangkaraya: Pusaka Lima, 2003.
Schoorl, J.W., Modernisasi: Pengantar sosiologi pembangunan negara-negara sedang berkembang, jakarta:Gramedia, 1980.
Teichman, Jenny, Etika Sosial, Yogyakarta: kanisius, 1998.
[1] Buletin Pemuda SPPJ Jemaat Eppata, (
[2] Lihat Tempat Kitab Kejadian dalam Alkitab, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, (
[3] Lihat Alkitab, Imamat 10:5, 45; Keluaran 8:2 dan 4
[4] Lihat dan Bandingkan, Pakaian, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini II, (
[5] J.F Kasenda, Alkitab Elektronik Versi 2.7, (Jakarta: LAI-www.YayasanSabda.org, 1999-2001)
[6] Dra. Nila Riwut (penyunting), Maneser Panatau Tatu Hiang: menyelami kekayaan Leluhur (kumpulan tulisan Cilik Riwut), (Palangkaraya: Pusaka Lima, 2003), Hal.57.
[7] Bandingkan Ibid, Hal.58.
[8] Ibid, hal.59
[9] Ibid.
[10] Ibid, hal.91
[11] Ibid, hal.92
[12] Ibid.
[13] Ibid, hal.97
[14] Bnd. Ibid.
[15] Bnd. Ibid, Bab. VII Hal.195 – 221.
[16] Lihat Ibid, Hal. 170.
[17] Prof. Dr. J.W. Schoorl, Modernisasi: Pengantar sosiologi pembangunan negara-negara sedang berkembang, (
[18] Prof. Drs. M.P Lambut, Wawancara, 12 Oktober 2005.
[19] Bernad Poduska, 4 Teori kepribadian, (
[20] Egoisme: Teori yang menyatakan bahwa semua manusia selalu digerakan oleh motivasi cinta diri dan bahwa tindakan-tindakan yang tampak tidak untuk cinta diri sesungguhnya merupakan tindakan cinta diri secara tersembunyi. Jenny Teichman, Etika Sosial, (Yogyakarta: kanisius, 1998), Hal.7-8
[21] Bnd. Bernad Poduska, 4 Teori Kepribadian: Aktualisasi Diri-bagian kesimpulan, (
[22] Stephen B. Bevans, Model-model teologi Kontekstual Jilid I: berteologi dalam konteks, (Maumere: LPBAJ-Seminari Tinggi Ledareo, 2000), Hal.5
[23] Bnd. Ibid, Hal.50-51.
[24] Lihat dan bandingkan Matius 18:4,
